KESEDERHANAAN DALAM MENUNTUT ILMU

Pada zaman dahulu, menurut ceritanya, si fulan yang ingin menuntut ilmu, terpaksa merantau berhari-hari lamanya untuk mencari seorang guru. Guru yang ditemui pula belum tentu akan menerima si fulan dengan mudah. Setelah disuruh mengangkat air, membelah kayu dan dilempang hingga tergolek; jika si fulan tahan dengan penderitaan itu, barulah dia diterima menjadi murid.

Pada hari ini, ilmu pula yang mencari kita. Bukalah buku dan kita akan menemui berbagai ilmu yang ditawarkan. Kita boleh memilih mana yang sesuai dan diminati. Layarilah internet, dan kita boleh menemui beribu-ribu laman institusi pelajaran.

Oleh karena mudahnya memperoleh ilmu pada hari ini, maka siapa saja boleh belajar apa yang diingininya. Tambahan pula, tiada ketentuan umur yang membatasi kita untuk mempelajari sesuatu. Tentu sekali fenomena ini amat bagus karena bisa memenuhi hasrat kita sebagai manusia yang sentiasa ingin tahu dan ingin menjadi lebih pandai. Tanpa perlu mengikuti kelas atau kuliah yang formal pun, kita itu bisa menjadi pakar di dalam bidang yang diminatinya asalkan rajin menuntut ilmu.

Namun, hal itu menjadi masalah apabila kita tidak mempunyai kepandaian untuk menilai sesuatu ilmu itu. Kita perlu tau menimbang apakah ilmu itu menjadikan kita lebih bijaksana atau semakin dungu. Lebih tawaduk bila mana ilmu itu membuatkan kita semakin sadar akan kekurangan ilmu yang kuasai atau semakin sombong dengan ilmu yang sedikit. Lebih malang lagi jika kita mempelajari ilmu yang yang salah lagi menyesatkan!

Mempelajari sesuatu ilmu itu tidak boleh hanya berdasarkan menambah pengetahuan dan kemahiran dalam sesuatu bidang. Jika itulah saja yang diperoleh, maka kita hanya mendapat kulit dan isi dan tidak intinya. Kulit adalah pengetahuannya, isi adalah kemahirannya, tetapi intinya pula ialah sikapnya.

Itulah tiga hal yang menunjangi ilmu dan inilah yang menjadi kunci-kunci kepada penguasaan apapun bidang ilmunya. Tidak boleh tidak, ilmu yang baik adalah ilmu yang meresap dan dihayati oleh seseorang secara mental, fisik dan spiritual. Ini adalah karena pengetahuan sesuatu ilmu itu adalah untuk mental, kemahiran ilmu itu adalah untuk fisik, sementara perubahan sikap yang diperoleh daripada sesebuah ilmu itu adalah untuk spiritualnya.

Lihatlah betapa banyak manusia yang dikatakan terpelajar tetapi tidak bijak. Mengetahui banyak teori, tetapi yang tidak dapat dipraktikkan. Kerana itulah, jika kita renungi, terdapat banyak sekali masalah di dalam masyarakat yang terjadi secara berulang karena pendekatan penyelesaiannya mengikut paradigma yang serupa. Sebabnya adalah karena penguasaan ilmunya hanyalah penambahan pengetahuan dan peningkatan kemahiran dan tidak kepada perubahan sikap.

Jika akal dan fikiran saja yang diasah, tetapi hati masih tidak diasuh, maka setinggi mana, sebanyak mana ilmu yang dituntut, ia akan menguasai secara akal dan fikiran saja yang akhirnya menjadi kesalahan. Ilmu yang tidak dipelajari dengan penyertaan hati akan menjadikan seseorang itu tidak mengenal baik dan buruk untuk dirinya, negaranya dan agamanya.

Justru itu, saat ini kita mudah sekali mempelajari ilmu, kita harus memperoleh tiga elemen yang penting itu. Ia akan menjadikan kita seseorang yang seimbang dari segi perlakuan dan pemikiran. Malah, pada waktu yang sama dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajari secara optimum. Inilah wasatiyyah (kesederhanaan) yang harus menjadi pegangan kepada siapa yang mencintai ilmu

– Artikel iluvislam.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s